Menatapnya yang berdiri tepat di hadapan ku, tanpa bisa berkata-kata, diam dalam bisu, dan hanya bisa tesenyum pahit. Kami saling bertatap tanpa ada sepatah kata yang terucap dari bibir kami. Perasaan ku bergejolak, saling berpaut membentuk badai. Bola mata kami saling berpaut memandang satu sama lain, aku menatap ekspresinya, aku menatap wajah rupawannya, menatap bola matanya yang indah memantulkan bayangan ku di sana. Ia mengulurkan tangannya pada ku dengan kelembutan. Ku angkat tangan ku dan ku coba untuk menyambut uluran tangannya. Tetapi, belum sempat ku menyambut tangannya, aku bagai tertahan oleh sesuatu. Dan setetes cairan hangat mengalir di pipi ku.
Sabtu, 05 Mei 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar